Selamat datang di Download Tarling Cirebonan

Seniman Tarling Cirebon Riwayatmu Sekarang

Kamis, 19 Februari 20090 komentar

"TARLING dangdut yang ada sekarang ini adalah proses destruksi," tegas Ahmad Syubhanuddin Alwy. Ketua Yayasan Dewan Kesenian Cirebon itu menyayangkan seni tarling yang saat ini sudah banyak terkontaminasi dengan musik dangdut. Kelompok-kelompok musik yang ada, menurut Alwy, bahkan lebih suka menyandang predikat sebagai kelompok seni tarling dangdut ketimbang tarling murni.

TAK bisa dimungkiri, seni tarling yang asli saat ini memang sudah tidak begitu diminati kelompok-kelompok kesenian.

Sebab, dengan memasukkan unsur dangdut, pertunjukan mereka dapat menarik lebih banyak penonton terutama di desa-desa yang memang lebih gandrung dengan jenis musik itu.

"Seni tarling secara tegas harus dibedakan dengan dangdut," ujar Alwy. Bila dua kesenian tersebut dicampur, maka akan merusak keaslian tarling itu sendiri.

Padahal, pertunjukan tarling digunakan para seniman untuk mencurahkan kesedihan tentang penderitaan, percintaan, atau penindasan.

Secara filosofis, tarling bahkan dapat mewakili gambaran sosial antarkelas masyarakat elite dengan alit (kecil). Sedangkan tarling dangdut, sebagian besar hanya menampilkan musik dari negara India yang durasi pertunjukannya lebih banyak diisi dengan musik dangdut.

Hal ini mengakibatkan pesan yang ingin disampaikan tidak tercapai. "Karena waktu yang diberikan untuk pertunjukan tarling sedikit, ceritanya sering tidak selesai," kata Alwy.

tarling yang baru dikenal sekitar tahun 1950-an, pada awalnya merupakan musik hiburan anak muda yang dimainkan secara spontan sambil menikmati indahnya rembulan di malam hari.

Pada saat itu instrumen gitar dimainkan dengan cara menirukan tabuhan melodi saron pada gamelan dan diiringi dengan alunan nada suling.

Dari dua alat musik yang sering dimainkan itu, tidak heran bila tarling merupakan sebuah akronim yang berasal dari kata gitar dan suling. Pada awal tahun 1960-an, pementasan tarling di panggung-panggung mulai dipelopori oleh seorang seniman yang bernama Jayana.

Saat itu para pemain tarling tidak hanya melengkapi dirinya dengan gitar dan suling, tetapi juga instrumen lainnya, seperti kendang, gong, tutukan, dan kecrek.

Pertunjukan tarling itu sendiri berupa musik dengan membawakan lagu-lagu gamelan Cirebon, seperti kiser, bendrong, waledan, dan lain-lain.

Dengan kreativitas para pelakunya, tarling kemudian berubah bentuk dari seni musik menjadi teater. Pertunjukan tersebut menyerupai pentas opera, yang sebagian besar tokoh-tokohnya melantunkan dialog dalam bentuk nyanyian.

Kesenian tarling lebih populer di daerah Indramayu dan Cirebon sebab masyarakat di daerah pesisir seperti di kedua daerah tersebut lebih suka mengungkapkan perasaannya langsung secara verbal. "Bisa dibilang, dalam berbicara mereka belak-belakan dan spontan," kata Alwy.

menyebut dua seniman yang masih memegang teguh nilai-nilai asli budaya tarling, yaitu Narto Marta Atmadja dan Abdul Adjib. Narto Marta Atmadja saat ini memimpin kelompok Nada Budaya dan Abdul Adjib memimpin kelompok Putra Sangkala.

Sebenarnya tarling yang dipentaskan Narto dan Adjib merupakan pengembangan dari apa yang dilakukan Jayana. Namun, transformasi seni dari Narto atau Adjib tidak mengubah substansi tarling itu sendiri, karena masih ada pesan-pesan sosial yang disampaikan.

Hal yang berubah adalah proses modernisasi dalam pertunjukannya saja. Dalam hal teknologi misalnya, perbedaan pertunjukan tarling oleh Adjib atau Narto dengan Jayana yang beraliran klasik hanya pada penggunaan perangkat pengeras suara serta instrumen musik elektronik.

Dari segi pemaparan cerita, Jayana mengisahkan kesedihan tokoh-tokohnya dengan nyanyian dari mulutnya sendiri. Oleh karena itu, dalam pertunjukannya, Jayana paling banyak hanya diiringi oleh empat pemain musik. Sedangkan kelompok tarling yang dikelola Narto atau Adjib, anggotanya bisa mencapai hingga 30 orang karena sudah berupa pertunjukan teater musikal.

Saat ini belum tentu sebulan sekali para kelompok kesenian tarling mendapat panggilan pentas. "Di TMII (Taman Mini Indonesia Indah) mungkin hanya satu sampai dua kali dalam satu tahun," kata Alwy menambahkan.

Bahkan, ada dari para seniman tersebut yang bergabung ke partai politik hanya untuk mendapat penghasilan ataupun mempertahankan kesenian tarling itu sendiri. Dari kegiatan partai itu, biasanya para seniman mendapat kesempatan untuk menunjukkan kebolehannya sekaligus mendapat penghasilan seadanya.

"Dengan honor satu kali pertunjukan sekitar Rp 30 juta pun, kalau dalam sebulan cuma manggung sekali, seniman itu tidak akan jadi kaya," ujar Alwy menjelaskan.

Dia mengenang masa kejayaan seni tarling pada tahun 1970 sampai awal tahun 1980-an. Ketika itu seniman tarling bisa mendapat panggilan setiap hari, bahkan hingga dua kali dalam sehari.

Walaupun begitu, Alwy sangat kagum dengan para seniman tarling, yang menurutnya sangat setia dan tidak cengeng dalam menghadapi perubahan zaman.

Para seniman tersebut, saat ini menjalani berbagai macam pekerjaan, seperti guru, petani, bahkan tukang ojek. Hebatnya, ketika mendapat panggilan pentas, mereka tidak memerlukan latihan sama sekali.

Selanjutnya, cukup dengan petunjuk lisan dari ketua kelompok, para seniman tarling sudah bisa melakukan improvisasi dengan baik sesuai dengan perannya masing-masing. Meski demikian, pemerintah tidak terlalu peduli dengan kesenian tarling ini.
Share this article :

Poskan Komentar

 
Support : Cara Gampang | Creating Website | Johny Template | Mas Templatea | Pusat Promosi
Copyright © 2011. Download Tarling Cirebonan - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Modify by CaraGampang.Com
Proudly powered by Blogger